ketika arah harus berputar

begitu lah waktu,

slalu penuh misteri,

menjadi rahasia bagi siapa saja,

termasuk diri ini.

ketika berjalan ku temukan arah

dalam langkah perlahan tuk bertahan

ketika itu lah kau buat kakiku patah

dan harus berputar arah

merangkak tuk kembali lagi

jauh dari sini.

ini lah larik-larik patah

termusnah oleh keadaan

permainan baru dimulai

sekarang dan tuk seterusnya.

2008 Kelam

Hua…

kelam memang ini tahun:

nabrak orang,

nabrak mobil,

di ambang maut terlempar dari bis,

patah hati karena cinta, cinta, dan cinta,

outline 3x gagal,

ditikam dari belakang oleh orang yang ku anggap kawan baik,

musnahnya yang tlah ku pertahankan slama ini,

dibuang sahabat karena over peduli

smakin jauh dari-Nya.

# # # # #

Ree Kumbawa, hampir akhir 2008

ya Allah, 2008 belum usai,

ku mohon jangan Kau tambah kelam jalan hidupku

cukup sudah begini!

ku ingin warna lain tapi bukan warna darah.

Sementara Saja!!!

hidup ini hanya sekedar singgah

tiada yang abadi

datang ke dunia sendiri

pergi pun sendiri

pertanggungjawabankan diri sendiri!!!

semuanya hanya sementara

keluarga hanya sementara bersama

sebentar saja diambil-Nya

cinta pun tak ada bedanya

sementara waktu saja

perpisahan atau kematian pasti terjadi juga

sahabat pun begitu juga

hanya hadir tuk sesaat

hidup ini singkat saja

manfaatkan waktu yang tersisa

biarlah yang tlah terjadi

ambil pelajaran tuk di kemudian hari!!!

# # # # #

Ree Kumbawa, memory taman tanpa bunga

akhir 2008 di bumi khatulistiwa

Kalah

arus

lurus

menjerumus,

tanya-tanyalah

ke mana bisa bertanya

hingga didapat jawabnya,

99 % kalah telak

terlukis retakan-retakan

menghitam di keabadian.

# # # # #

Bumi Borneo dalam hujan, Oktober 2008

Ree Kumbawa

Benci dalam Cinta

aku cinta kalian
tapi aku benci kita begini
hidup dalam neraka dunia
yang kita cipta sendiri

***
bumi borneo, pagi yang memilukan
21-05-2008

Mampukah Aku?

Hatiku tlah mati
logikaku udah tak mampu berfungsi
mampukah ku berdiri
sebagai diriku sendiri

Tuhan…
berat nian beban ini
terbungkuk ku memikul bongkahan di pundak ini
tertatih langkahku membawa semua ini

Mampukah aku…
tak kembali ke masa silam:
bertahan hidup dengan obat
mengutuk Tuhan yang mengahadirkanku ke dunia
membenci manusia iblis
menggores tangan dengan silet
muak dengan hidup ini

Tuhan…
dulu aku mengabaikan-Mu
Kau abaikan aku
aku anggap balasan

Tapi kini…
ku mohon dengan sangat:
jangan pernah tinggal aku!
ku mohon dengan sangat:
tolong tunjukkan jalan-Mu!
ku mohon dengan sangat:
tolong lepaskan serita dari aku!
    Aku lelah.

Mampukah aku…
menyatukan kepingan hati yang retak
mengobati jiwa yang terluka
menemukan kebahagiaan yang hilang
menghadirkan riuh gembira yang pergi
membawa kedamaian yang lenyap

Mampukah aku…
hanya Tuhan yang tau
hanya sang waktu yang mampu menjawab semua itu.

***
Bumi Borneo, pagi yang memilukan
21 Mei 2008

“Neraka”

Ada yang bilang:
    "Sabar itu ada batasnya"
aku sangat setuju dengan kata-kata itu

Kata-kata kurang ajar pun keluar dari mulutku:
    "Mendingan cerai aja!"
Kata-kata sadis pun keluar juga:
    "Mampus aja sekalian!"

Aku sudah tak mampu berkata-kata lagi
hanya dua kalimat itu yang bisa ku ucapkan

Aku sadar…
terlaknatlah aku!
durhakalah aku!

Lewat isak tangis tertahan
kutumpahkan segalanya
segala rasa di jiwa
sedih!
kecewa!
marah!
sakit hati!

Tak pernah ku ceritakan hal ini ke siapa pun
sahabat terdekatku sekalipun
karena ku benci kisah ini
karena ku sendiri tk sanggup bercerita
hanya pada puisi duka ini ku berbagi
berbagi kepingan hati yg penuh luka

Andai kau melihatku menangis
jangan tanyakan sebabnya!
jika kau baca puisi ini
jangan tanyakan ini puisi apa!
karena jawabnya hanya satu kata:
"Neraka".

***
Borneo, musim kemarau
pagi yang memilukan
21 Mei 2008

Penggalan Drama Singkat: Ketika Harus Berkata; “Tidak”

dia:    (berkata-kata)
aku:    (berkata-kata)
dia:    (mulai)
aku:    (diam)
dia:    (terus berkata-kata)
aku:    (lebih banyak diam)
dia:    (mengeluarkan jurus jitu)
aku:    (pergolakan logika dan perasaan)
dia:    (berkata-kata lagi)
aku:    "Tidak"
dia:    (terus memohon)
aku:    (diam)
dia:    (memelas)
aku:    (diam)
dia:   (terus memelas)
aku:    "Maaf. Tidak. Tidakl lagi" (diam)
dia:    (pergi)
aku:    (diam).

Keterangan:
Ini bukan naskah drama tapi puisi
Pontianak, 11 Mei 2008

Harapan Kupu-kupu

Andai diizinkan
kupu-kupu ingin terbang
ke surga
menyelami lautan hijau
merentas langit biru
melihat awan menangis darah
biarkan hutan meranggas
dan bumi pun dilanda banjir

Itulah harapan kupu-kupu
yang terbelenggu dalam sangkar emas
diasuh sejuta setan.

Pontianak, minggu malam
11 Mei 2008

Munafik

ini
itu
aku tau
kau tau
begini
begitu
rumit!!!

suatu ketika, 11 mei 2008

Next Page »